Posted: Agustus 17, 2010 in Uncategorized

ketika bulan nampak begitu lelah pada pelupuk matamu

terpaksa terpejammu menghapus lengkung sabit yang terlalu tua untuk kau tunggu.

engkau tertidur.

(dalam lelapmu, apa yang bisa kulakukan, selain terjaga akan  teduh wajahmu, sampai hari meninggi, sampai aku sebaik-baik memahami kalimatmu padaku  “ana uhibbuki zaujati al mahbubah”)

Posted: November 13, 2009 in sajak

(1)

Dan Dia tuliskan semenjak penciptaanku dimulai.
tinta cinta yang mengalir pada darahku.

sejak itu aku mengeja cinta dengan banyak hati
karena hidup mengajari bagaimana aku harus berbagi

 

(2)

aku meretakkannya

kau memecahkannya

dan pada akhirnya aku kehilangan keindahan itu…

 

(3)

pada jantera yang tiada berhenti

meski jalan berbatu,berlumpur berpasir pun berair.

seperti itu pula kasih yang selalu saja setia membersamai

meski sedu sedan senantiasa mengalir.

 

(4)

Bukan pada musimnya dandelion berbunga

Hanya bunga rumput, bukan rekah mawar yang lembut.

bukan pada saatnya surai-surai rapuhnya mengikut angin

ia hanya rebah pada tanah.

Posted: Mei 26, 2009 in Uncategorized

Lewat malam yang purba,

kita saling bertukar kata,

meski sejenak dan sederhana.

Posted: Februari 6, 2009 in Uncategorized

ketika matahari ayun temayun,

kulihat ibunda duduk dekat sudut jendela,

melipat selampai kertas bertahta tinta,

sesekali senyumnya melengkung sempurna,

atau kerut kerut air belaka parasnya,

sebab membaca kabar jauh yang mengusik bening kalbunya.

Ibunda jerijimu merepih,

menatah budi kami penuh kasih,

jeriji yang mengusap  sedu sedan kami sejak mencecah bumi.

Telapak kakimu mengantar jejak langkah kami meraba dunia.

Telapak kaki yang dibawahnya bergantung surga.

Tiada puisi yang dapat membahasakan dirimu, karena kaulah keindahan.

Sebagai tepian matamu, Ijinkan putri semata wayangmu berucap dengan segenap benang hati yang meraja,

aku mencintaimu Bunda..

(buat bundaku)

Posted: November 27, 2008 in serpihan

Ibunda, cinta itu seperti apa?

Jika engkau laut,

bagiku mencintaimu lewat perahu.

Jika engkau angin,

bagiku mencintaimu lewat layar.

O. laut adakah tempat untuk menampung perahu dan layarku?

(F, 21:26)

seperti inikah Bunda?

Aku melihat sungai mengalir diwajahmu.

Udara adalah kulitmu.

Dan matamu kulihat pada segala yang kulihat:

serupa cermin yang murni.

Sekali kau berkata padaku,

lewat bunga yang mekar serupa merah bibirmu.

Serupa keabadian yang jatuh ke dalam waktu.

Engkau adalah peristiwa yang runtuh di masa lalu.

Engkau adalah masa depan yang menyusup ke dalam mimpi sadar.

( F, 02:21)

seperti inikah bunda?

Aku lihat,

wajahmu tergantung bersanding elok wajah purnama,

di cakrawala timur…

(F, 19:12)

seperti inikah bunda?

Lewat malam yang sederhana.

Kita saling menyapa puisi.

Seperti keakraban sebuah doa.

Aku mengetuk kata,

Kau membuka jiwa lalu pada sebuah jarak.

Kau memintaku mengirimkan kabar,

kabar yang jauh,

penuh dengan dongeng-dongeng.

Kita merangkak dengan sabar,

menelusuri masa silam…

(F, 21:57)

seperti inikah bunda?

Kumasukkan musim hujan,

ke dalam sampul putih.

Kutoreh tanda petir di samping alamat,

Agar lekas tiba dan segera kau baca,

betapa gigil itu selalu menggelepar.

(F, 19:40)

Seperti inikah bunda?

Lalu bagaimana dengan gerimis dan senja hariku?. Mereka kucintai sejak aku bisa merasa bahagia, bersedih, gelisah, rindu, tertawa dan menangis akan kehadirannya.

Bunda, 2 purnama ini, gerimis dan senja hariku nampak memerah muda ketika larik ini tertulis begitu saja.

Di beranda

sampai jauh malam

aku menunggu

seseorang,

yang sebagian rasaku ada padanya.

yang aku tidak mau terlelap,

sebelum ia benar-benar tertidur.

(bunda menatapku dalam.

Sambil tersenyum beliau berkata: “iya nak, itu cinta”.

lalu bagaimana bunda? tanyaku.

simpan di kedalaman hatimu anakku,

sampai tiba waktumu…)

Posted: November 16, 2008 in sajak

untuk sahabatku,

Cloud bright

I

kau lipat selampai kertas,

kau jadikan perahu,

kau layarkan pada percik embun,

di fajar pertama

II

Kau sapukan jingga,

pada atap hatimu

jingga pertama,

yang kau tak pernah tahu.

(07:34, ketika pesan terabaikan…)

Kenapa aku mengejar waktu pembuktian?,

karena aku bosan dengan “biarlah waktu yang akan membuktikan”.

48 purnama

Posted: September 18, 2008 in sajak

untuk an

Pada keheningan,

berdoa:

melayarkan bahtera

pada telaga

(21:09, malam ramadhan)